Mu’adz bin Jabal adalah sahabat Nabi yang setia. Pada suatu hari, putra kesayangannya meninggal dunia. Ia amat sedih dan terpukul atas peristiwa itu. Selama beberapa hari ia hanya meratapi kematian anaknya.
Setelah memperoleh berita tentang keberadaan Mu’adz dari salah seorang sahabatnya, Nabi menulis sepucuk surat. Dalam surat itu, setelah memuji Alloh dan mengesakan-Nya, beliau melanjutkan tulisannya sebagai berikut.
“Berita tentang kesedihanmu yang tak kunjung reda dan kerapuhanmu menghadapi ketentuan Alloh atas kematian putramu telah sampai ke telingaku.
Ketahuilah, sahabatku! Puteramu adalah pinjaman dan amanah dari Alloh bagimu. Alloh menitipkannya padamu untuk kau nikmati sampai batas waktu (menitipkannya) itu berakhir dan ajalnya tiba.
Sahabatku, Mu’adz! Kita semua adalah milik Alloh dan kepada-Nya lah kita akan kembali. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Jangan menangisi sesuatu yang diambil oleh pemiliknya.
Waspadalah, Mu’adz! Jangan kau hapus pahala (kesabaran) dengan raungan dan kesedihan yang berlebihan. Seandainya kau tahu betapa besar pahala ketabahanmu atas kematian anakmu, niscaya kau akan tau bahwa musibah yang sedang kau hadapi sangatlah kecil dibandingkan dengan pahala kesabaran dalam menerimanya.
Dan ketahuilah bahwa ratapan dan tangisan tidak akan dapat menghalangi kematian dan ketentuan Alloh. Oleh karena iitu, tingkatkanlah kesabaranmu dan yakinlah akan janji(pahala) Alloh. Janganlah bersedih atas semua yang telah Ia tetapkan kepada semua makhluk-Nya.” (Bibarul Anwar)




































Komen terbaru