Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1429 H

24 08 2008

Romadhon sebentar lagi menghampiri kita. Mari mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Semoga dengan persiapan yang baik akan menjadikan ibadah puasa kita diterima Alloh SWT. Amin…

Disini saya mau berbagi dengan kawan-kawan jadwal imsakiyah 1429 H. Semoga bermanfaat…

Jadwal Imsakiyah untuk kota Surabaya :

Untuk beberapa kota lain silahkan donlot di bawah ini :

Baca entri selengkapnya »





Amanah Alloh

28 04 2008

Mu’adz bin Jabal adalah sahabat Nabi yang setia. Pada suatu hari, putra kesayangannya meninggal dunia. Ia amat sedih dan terpukul atas peristiwa itu. Selama beberapa hari ia hanya meratapi kematian anaknya.
Setelah memperoleh berita tentang keberadaan Mu’adz dari salah seorang sahabatnya, Nabi menulis sepucuk surat. Dalam surat itu, setelah memuji Alloh dan mengesakan-Nya, beliau melanjutkan tulisannya sebagai berikut.
“Berita tentang kesedihanmu yang tak kunjung reda dan kerapuhanmu menghadapi ketentuan Alloh atas kematian putramu telah sampai ke telingaku.
Ketahuilah, sahabatku! Puteramu adalah pinjaman dan amanah dari Alloh bagimu. Alloh menitipkannya padamu untuk kau nikmati sampai batas waktu (menitipkannya) itu berakhir dan ajalnya tiba.
Sahabatku, Mu’adz! Kita semua adalah milik Alloh dan kepada-Nya lah kita akan kembali. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Jangan menangisi sesuatu yang diambil oleh pemiliknya.
Waspadalah, Mu’adz! Jangan kau hapus pahala (kesabaran) dengan raungan dan kesedihan yang berlebihan. Seandainya kau tahu betapa besar pahala ketabahanmu atas kematian anakmu, niscaya kau akan tau bahwa musibah yang sedang kau hadapi sangatlah kecil dibandingkan dengan pahala kesabaran dalam menerimanya.
Dan ketahuilah bahwa ratapan dan tangisan tidak akan dapat menghalangi kematian dan ketentuan Alloh. Oleh karena iitu, tingkatkanlah kesabaranmu dan yakinlah akan janji(pahala) Alloh. Janganlah bersedih atas semua yang telah Ia tetapkan kepada semua makhluk-Nya.” (Bibarul Anwar)





Kemana Kita akan Pergi?

25 04 2008

Ketika saya melewati gang di tempat saya, melintas seorang tua. Sambil membawa dua tempat tidur terbuat dari kayu dengan ukuran cukup besar ditali di atas sepedanya, pak tua itu membawanya untuk di jual. Saya terus mengamati pak tua itu membawa tempat tidur yang kelihatan tidak ringan itu. Tidak tahu sudah seberapa jauh dan seberapa lama ia berkeliling. Tapi saya menebak, pastilah tidak sebentar ia telah berkeliling untuk menawarkan dagangannya. Itu terlihat dari keringat yang mengucur di tubuhnya yang saat itu juga diterpa teriknya matahari.
Saat itu saya bertanya pada diri saya, “Apakah tidak capek ya pak tua ini di saat siang yang panas berkeliling untuk menjajakan barang? Untuk siapa ya dia bekerja di usia yang seharusnya digunakan untuk menikmati masa tuanya? Bagaimana ya nasib saya ketika seusia pak tua itu?” Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seperti ada sebuah kegundahan dalam diri ini.

Ada perasaan iba di benak saya melihat pak tua tersebut. Ia kelihatan payah sekali. Namun, langkahnya untuk terus berjuang menawarkan dagangannya tidak ada lunturnya. Walaupun panas dan terik matahari terus menyinarinya, ia seolah menerpa semuanya dengan begitu nikmatnya. Semangatnya begitu luar biasa untuk mencari penghidupan bagi keluarganya.

Saudaraku, saya sendiripun membayangkan bagaimana kehidupan saya ketika seusia pak tua itu. Mungkin di usia sekarang ini saya belum bisa merasakan apa yang saat ini di rasakan pak tua itu. Tapi jika Alloh masih menghendaki saya berusia sampai seusia bapak itu, pasti saya akan merasakan bagaimana menjalani usia tua. Akankah semangat saya masih bisa seperti si pak tua ketika menjajakan daganganya? Apakah saya masih bisa mengabdikan diri kepada Alloh dengan semangat pak tua tadi? Wallahu a’alam, semoga Alloh memberikan kekuatan kepadaku.
Pak tua itu pasti sudah kenyang dengan berbagai pengalaman hidup. Pahit manis, susah dan gembira pun pasti telah dirasakan olehnya. Namun, apa sesungguhnya yang dicari oleh seseorang yang mulai masuk di penghujung usia? Saya yakin bukan harta yang ia cari. Bukanlah kesenangan dunia lagi yang menjadi prioritas utamanya. Karena, semua itu pasti akan hilang dan tak akan bisa dinikmati lagi seiring dengan kerentaan yang akan menghinggapi tubuhnya.

Mengabdikan diri sepenuhnya kepada Alloh adalah impian di masa tua. Sebab, hanya dengan bekal itulah yang akan dibawa manusia kelak ketika menghadap-Nya. Harta, saudara, suami atau istri tak akan pernah ikut mendampingi ketika Sang Maha Pencipta memanggil kita kembali. Kita hanya sendirian kelak ketika menghadap-Nya untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita.
Namun, bagi kita generasi penerus pak tua, apakah harus menunggu kerentaan tubuh untuk mengabdi kepada Alloh? Apakah harus menunggu dua puluh atau tiga puluh tahun lagi untuk menjalankan perintah-Nya?

Subhanalloh, usia manusia hanya di tangan Alloh, panjang atau pendek tak seorang pun mengetahuinya. Tetapi sebagai manusia yang diberikan akal, kita dituntut untuk memikirkan jatah usia kita. Jika saat ini, mungkin kita masih merasa jatah yang Alloh berikan masih lebih banyak dibandingkan dengan pak tua, sungguh keliru pemikiran semacam ini.

Bukankah Alloh telah mengingatkan kita bahwa kematian manusia tidak ada seorang pun yang bisa memajukan atau pun mengundurkannya? “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (QS. Yunus : 49)
Kita yang masih muda janganlah terlena. Jangan pula menganggap kita masih jauh dengan akhir kehidupan. Sehari, seminggu, sebulan bahkan sedetik kedepan kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita. Akankah kita mendapati kebaikan, keburukan di waktu mendatang, kita tidak pernah mengetahuinya.

Bertanyalah pada diri sendiri, mungkinkah Alloh memanggil kita ketika sedang bekerja? Mungkinkah Alloh mengambil nyawa kita ketika sedang makan? Mungkinkah Alloh mengutus malaikat pencabut nyawa ketika kita sedang beribadah? Atau bahkan mungkinkah Alloh mencabut nyawa dari jasad kita ketika sedang melakukan maksiat? Jawaban kita pasti mungkin.

Oleh karena itu, mari kita pikirkan kemana kita akan pergi setelah ‘menikmati’ kehidupan di dunia ini? Dengan memikirkannya, kita akan mempunyai semangat untuk mengabdi kepada-Nya. Dengan memikirkannya, kita tak akan terlena dengan usia yang ‘kelihatannya’ masih jauh dari incaran sang malaikat maut. Semoga Alloh memberikan kekuatan kepada kita semua untuk terus berjuang dan mengabdi kepada-Nya. Wallahu a’lam.**





Saat Berbenah

25 04 2008

Rasanya telat buat nulis ini. Tapi bukan masalah. Ya…udah lama aku ga corat-coret lagi di blog ini, dan baru kali saat ini aku sempat nulis lagi.

Sudah seminggu lewat sih kalo mau ngomongin ulang tahunku. Tepatnya tanggal 16 april lalu, aku telah ‘mencapai’ setahun lagi masa pengurangan jatah hidup ini. Ehm…terdengar begitu menakutkan memang. Tapi, mau tidak mau semua orang pasti akan menghadapi hilangnya satu persatu usianya hingga akhirnya menuju yang namanya ‘mati’.

“Aduh!!!kenapa sih aku kok malah bahas masalah kayak gini? Padahal kan, biasanya kalo tiba saat ulang tahun tu dirayain pake makan-makan, pesta dan banyak deh acara lainnya???” Emang orang yang aneh?

Ya…ya…ya…Emang lain dari kebiasaan orang sih. Juga lain dari yang terjadi di saat moment seperti tahun-tahun lalu. Kalo tahun lalu, aku gak pernah mikirin ‘gimana’ dengan berkurangnya umurku ini? Apa yang harus ku lakukan untuk mengisi sisa-sisanya? Untuk siapa aku akan memanfaatkan sisa usia yang gak akan pernah aku tahu kapan akan berhenti? Dan banyak hal lain yang gak kepikir oleh ku saat itu.

Namun, di tahun ini rasanya aku seperti menemukan sebuah ‘hidayah’ yang mengharuskan aku memikirkan semua itu. Meskipun beberapa teman dan saudara mengucapkan “happy birthday” seperti kebanyakan orang-orang saat ini yang ‘sepertinya’ mentradisikan hari lahirnya sebagai ‘hari bersenang-senang’, aku malah merasakan hal sebaliknya ketika orang-orang dekatku dan rekan memberikan ucapan selamat.

Di sisi lain masih ada sih rasa bahagia ketika mereka mengucapkan itu semua dengan ketulusan. Sebab, menurutku itu semua adalah bentuk perhatian dan tentunya ada doa. Namun, di sisi lain membuat aku semakin berpikir dan menyadari kalo aku sudah kehilangan ‘satu angka’ kehidupan.

‘Satu angka’ yang seharusnya aku masih bisa menggunakannya untuk berbenah, memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan untuk orang lain. Namun, kesempatan itu telah hilang.
Menyesal?? Ya tentunya. Tetapi larut dalam penyesalan bukanlah hal yang menyelesaikan. Di babak baru saat inilah harus ada tindakan nyata untuk merubah semuanya. Di babak baru inilah, saatnya untuk tidak terlarut dalam kekelaman masa lalu.
Dalam doaku aku selalu memohon kepada Alloh agar di sisa ‘angka’ terakhirku ini diberikan sebuah ‘angka’ yang berkah. ‘Angka’ terakhir ini semoga ‘angka’ yang bisa memberikan kemanfaatan, dan ‘angka’ terakhirku ini sebagai jalan yang mantap untuk merubah diri agar lebih baik.
Semoga Alloh mengabulkan segala doaku. Amin….

Surabaya, 25 April 2008