Ketika saya melewati gang di tempat saya, melintas seorang tua. Sambil membawa dua tempat tidur terbuat dari kayu dengan ukuran cukup besar ditali di atas sepedanya, pak tua itu membawanya untuk di jual. Saya terus mengamati pak tua itu membawa tempat tidur yang kelihatan tidak ringan itu. Tidak tahu sudah seberapa jauh dan seberapa lama ia berkeliling. Tapi saya menebak, pastilah tidak sebentar ia telah berkeliling untuk menawarkan dagangannya. Itu terlihat dari keringat yang mengucur di tubuhnya yang saat itu juga diterpa teriknya matahari.
Saat itu saya bertanya pada diri saya, “Apakah tidak capek ya pak tua ini di saat siang yang panas berkeliling untuk menjajakan barang? Untuk siapa ya dia bekerja di usia yang seharusnya digunakan untuk menikmati masa tuanya? Bagaimana ya nasib saya ketika seusia pak tua itu?” Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seperti ada sebuah kegundahan dalam diri ini.
Ada perasaan iba di benak saya melihat pak tua tersebut. Ia kelihatan payah sekali. Namun, langkahnya untuk terus berjuang menawarkan dagangannya tidak ada lunturnya. Walaupun panas dan terik matahari terus menyinarinya, ia seolah menerpa semuanya dengan begitu nikmatnya. Semangatnya begitu luar biasa untuk mencari penghidupan bagi keluarganya.
Saudaraku, saya sendiripun membayangkan bagaimana kehidupan saya ketika seusia pak tua itu. Mungkin di usia sekarang ini saya belum bisa merasakan apa yang saat ini di rasakan pak tua itu. Tapi jika Alloh masih menghendaki saya berusia sampai seusia bapak itu, pasti saya akan merasakan bagaimana menjalani usia tua. Akankah semangat saya masih bisa seperti si pak tua ketika menjajakan daganganya? Apakah saya masih bisa mengabdikan diri kepada Alloh dengan semangat pak tua tadi? Wallahu a’alam, semoga Alloh memberikan kekuatan kepadaku.
Pak tua itu pasti sudah kenyang dengan berbagai pengalaman hidup. Pahit manis, susah dan gembira pun pasti telah dirasakan olehnya. Namun, apa sesungguhnya yang dicari oleh seseorang yang mulai masuk di penghujung usia? Saya yakin bukan harta yang ia cari. Bukanlah kesenangan dunia lagi yang menjadi prioritas utamanya. Karena, semua itu pasti akan hilang dan tak akan bisa dinikmati lagi seiring dengan kerentaan yang akan menghinggapi tubuhnya.
Mengabdikan diri sepenuhnya kepada Alloh adalah impian di masa tua. Sebab, hanya dengan bekal itulah yang akan dibawa manusia kelak ketika menghadap-Nya. Harta, saudara, suami atau istri tak akan pernah ikut mendampingi ketika Sang Maha Pencipta memanggil kita kembali. Kita hanya sendirian kelak ketika menghadap-Nya untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita.
Namun, bagi kita generasi penerus pak tua, apakah harus menunggu kerentaan tubuh untuk mengabdi kepada Alloh? Apakah harus menunggu dua puluh atau tiga puluh tahun lagi untuk menjalankan perintah-Nya?
Subhanalloh, usia manusia hanya di tangan Alloh, panjang atau pendek tak seorang pun mengetahuinya. Tetapi sebagai manusia yang diberikan akal, kita dituntut untuk memikirkan jatah usia kita. Jika saat ini, mungkin kita masih merasa jatah yang Alloh berikan masih lebih banyak dibandingkan dengan pak tua, sungguh keliru pemikiran semacam ini.
Bukankah Alloh telah mengingatkan kita bahwa kematian manusia tidak ada seorang pun yang bisa memajukan atau pun mengundurkannya? “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (QS. Yunus : 49)
Kita yang masih muda janganlah terlena. Jangan pula menganggap kita masih jauh dengan akhir kehidupan. Sehari, seminggu, sebulan bahkan sedetik kedepan kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita. Akankah kita mendapati kebaikan, keburukan di waktu mendatang, kita tidak pernah mengetahuinya.
Bertanyalah pada diri sendiri, mungkinkah Alloh memanggil kita ketika sedang bekerja? Mungkinkah Alloh mengambil nyawa kita ketika sedang makan? Mungkinkah Alloh mengutus malaikat pencabut nyawa ketika kita sedang beribadah? Atau bahkan mungkinkah Alloh mencabut nyawa dari jasad kita ketika sedang melakukan maksiat? Jawaban kita pasti mungkin.
Oleh karena itu, mari kita pikirkan kemana kita akan pergi setelah ‘menikmati’ kehidupan di dunia ini? Dengan memikirkannya, kita akan mempunyai semangat untuk mengabdi kepada-Nya. Dengan memikirkannya, kita tak akan terlena dengan usia yang ‘kelihatannya’ masih jauh dari incaran sang malaikat maut. Semoga Alloh memberikan kekuatan kepada kita semua untuk terus berjuang dan mengabdi kepada-Nya. Wallahu a’lam.**
Komen terbaru